Kalurahan Sidoluhur sebagai salah satu Kalurahan Mandiri budaya, memiliki berbagai kesenian lokal yang siap untuk dipentaskan. Salah satunya adalah Reog dan Jathilan Sri Kuncoro Padukuhan Krajan. Reog Krajan ini terbilang istimewa karena hanya satu-satunya reog yang ada di Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar kesenian budaya ini tetap lestari.
Pemerintah Daerah beserta Pemerintah Kalurahan Sidoluhur berkomitmen untuk memfasilitasi berbagai event pementasan kesenian tersebut. Mulai dari event lokal hingga event skala yang lebih tinggi. Salah satu event yang digelar oleh Pemerintah Daerah DIY adalah Gelar potensi budaya yang diadakan setiap Selasa Wage sehingga disebut "Selasa Wagenan". Pada Hari Selasa Wage tanggal 12 Juli 2022 di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Reog Sri Kuncoro ikut menyemarakkan sebagai salah satu peserta pentas. Beserta 11 Kalurahan Budaya lain, Sri Kuncoro mendapatkan nomor antrian terakhir dalam pementasan tersebut.
Dari Sidoluhur turut hadir membersamai peserta Reog dalam acara tersebut antara lain:
1. Lurah Sidoluhur, Hernawan Zudanto, SE., beserta keluarga
2. Carik Sidohur, Fajar Nugroho dan Kamituwo, Wahyu Rahmadani
3. Ketua Pengurus Pengelola Kalurahan Budaya, Bambang Edy Baskoro beserta perwakilan anggota.
4. Dukuh Krajan beserta Warga
5. Pendamping Kalurahan Budaya
6. Penggiat UMKM Sidoluhur

Dalam event tersebut, juga dilengkapi dengan lapak Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) dari Kalurahan Sidoluhur. Lapak ini merupakan fasilitas yang disediakan Pemerintah Daerah untuk mengakomodir para pelaku usaha yang kalurahannya tampil dalam pementasan. Dengan demikian ada 11 lapak yang disediakan untuk para pelaku usaha tersebut.
Pelaku usaha dari Sidoluhur tampak antusias menjajakan dagangannya, mulai dari minuman belimbing, jamu hingga cemilan basah dan kering. Tak lupa pula dipajang hasil kreativitas dari Paguyuban Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP) Luhur Jiwo Sidoluhur. Para pengunjung tampak datang membeli produk dari lapak Sidoluhur ini.


________________________________
Berita dari Harianjogja.com:
Harianmerapi.com – Pentas Seni Kalurahan ‘Selasa Wagen’ berlangsung semarak dari siang sampai malam di komplek Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret, Selasa (12/07/2022).
Saat di panggung berbagai kelompok seni dari kalurahan-kalurahan asal Jogja pentas bergantian, di utara panggung stand-stand aneka produk UMKM pun masih buka sampai kegiatan pentas seni tersebut berakhir.
Adapun sebagai penutup Pentas Seni Kalurahan Selasa Wagen yang diinisiasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, yakni Reog Sri Kuncoro asal Sidoluhur Godean Sleman.
“Penampilan seni reog Sri Kuncoro bagus, penonton banyak memberi tepuk tangan. Semoga bisa terus dijaga kelestariannya seni reog klasik tersebut,” papar Kepala Seksi Lembaga Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Dra Endang Widuri.
Ditemui menjelang berakhirnya pentas seni tersebut, Dra Endang mengungkapkan, reog klasik sudah semakin langka ditemukan. Jika ada keinginan, misalnya tambahan kreasi seperti menggunakan kostum dan aksesoris dengan warna-warna ‘ngejreng’ boleh-boleh saja.
“Kalau berapa lama tampil atau berapa babak dapat disesuaikan dengan waktu yang disediakan panitia,” paparnya.
Ketika pentas seni tersebut berakhir, sebagian pemain reog Sri Kuncoro, panitia acara, tenaga pendamping kalurahan budaya dan aparatur Kalurahan Sidoluhur foto bersama. Bahkan sejumlah turis/wisatawan mancanegara ikut bergabung dan ada yang meminjam pedang milik Sri Kuncoro.
Pengurus Sri Kuncoro, Jiman merasa bersyukur pentas seni tersebut berlangsung lancar. Segenap penonton sangat antusias mengikuti acara sampai selesai, bahkan banyak yang kompak memberikan aplaus tepuk tangan.
“Jumlah pemain dan pemusik reog Sri Kuncoro yang tampil dalam kesempatan ini totalnya ada 29 orang. Garis besar ceritanya, Panji Asmara Bangun berkelana ke hutan dan berlatih perang dengan para prajuritnya,” papar Jiman.
Sesepuh Sri Kuncoro, Tukidi menambahkan, prajurit dalam seni reog tersebut ada empat, yaitu prajurit pedang, kuda, tombak dan rontek. Sedangkan tahapan pentas dengan tari-tarian khas, misalnya ada daeng, andul, ngidak kecik, perang pedang bawahan/panggulan, bancak-doyok, lincek-lincek dan lumbungan.
Sementara itu menurut Lurah Sidoluhur, Hernawan Zudanto SE, reog klasik yang masih bisa dilestarikan di Sidoluhur, yakni berasal dari Padukuhan Krajan. Pihak pemerintah Sidoluhur bersama tim Budaya Sidoluhur dengan ketuanya Baskoro akan berusaha menjaga lestarinya kesenian tradisional seperti reog, hadrah, macapat dan lainnya.
“Dalam kegiatan Selasa Wagen saat ini, Sidoluhur selain menampilkan seni reog juga membuka stand pameran produk dari UMKM, antara lain ada minuman jamu tradisional, sari belimbing wuluh, sirup jahe, bakso goreng, kroket dan beberapa makanan ringan lain,” terangnya.
Ditambahkan Hernawan, dalam rangkaian peringatan Hadeging Sidoluhur pada Desember 2022 mendatang, pihaknya juga akan menampilkan aneka potensi seni maupun produk UMKM. Saat ini sudah terdata sekitar 300 pelaku UMKM di Sidoluhur dengan berbagai produk khasnya seperti makanan-minuman sampai kerajinan.
“Berbagai pihak kami harapkan bisa terlibat atau berperan dalam kegiatan Hadeging Sidoluhur, termasuk tim pendamping budaya Sidoluhur dengan dikoordinasi Galuh Fajar dan Riska NK,” urainya.
Referensi :
https://www.harianmerapi.com/seni-hiburan/pr-403876288/reog-sri-kuncoro-sebagai-penutup-pentas-seni-kalurahan-selasa-wagen-turis-ikut-foto-bersama?page=1